Rupiah Menguat Tipis di Awal Perdagangan Senin 9 Februari 2026

Senin, 09 Februari 2026 | 12:07:53 WIB
Rupiah Menguat Tipis di Awal Perdagangan Senin 9 Februari 2026

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah pada awal pekan ini menunjukkan sinyal penguatan meskipun masih dibayangi ketidakpastian global. 

Pada perdagangan Senin, 9 Februari 2026, rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat seiring melemahnya mata uang Negeri Paman Sam di pasar internasional.

Penguatan rupiah terjadi di tengah ekspektasi pasar terhadap potensi penurunan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve. Proyeksi tersebut memberi tekanan pada dolar AS dan membuka ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk bergerak positif.

Data Bloomberg mencatat, pada pukul 09.08 WIB nilai tukar rupiah terapresiasi 0,04% atau naik 6 poin ke level Rp16.870 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar AS tercatat melemah 0,06% ke posisi 97,57. Kondisi ini mencerminkan sentimen global yang sementara waktu mendukung penguatan rupiah.

Proyeksi Pergerakan Rupiah Sepanjang Pekan

Meski dibuka menguat, pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pergerakan rupiah ke depan masih akan diwarnai fluktuasi. Ia memperkirakan nilai tukar rupiah pada pekan ini akan bergerak dalam rentang yang cukup lebar.

“Rupiah pada pekan ini akan berada di kisaran Rp16.750 sampai Rp17.200 per dolar AS,” ujar Ibrahim.

Sementara itu, khusus untuk perdagangan Senin, 9 Februari 2026, Ibrahim memperkirakan rupiah berpotensi bergerak fluktuatif dan berakhir ditutup melemah. Menurutnya, rupiah diperkirakan akan ditutup di kisaran Rp16.870 hingga Rp16.920 per dolar AS.

Sebagai catatan, pada penutupan perdagangan Jumat, 6 Februari 2026, rupiah tercatat melemah 34 poin ke level Rp16.876 per dolar AS. Kondisi tersebut menjadi titik awal pergerakan rupiah pada awal pekan ini.

Sentimen Global: Geopolitik dan Harapan Suku Bunga The Fed

Menurut Ibrahim, salah satu sentimen utama yang mempengaruhi pergerakan rupiah berasal dari perkembangan geopolitik Amerika Serikat. Pasar saat ini mencermati peluang meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang diharapkan dapat menurunkan risiko geopolitik global.

Ibrahim menjelaskan bahwa pasar berharap pembicaraan antara Iran dan AS dapat membantu meredakan sebagian ketegangan dan mencegah eskalasi konflik yang lebih luas. Namun, perbedaan pandangan masih terlihat jelas di antara kedua negara.

“Namun, AS dan Iran terlihat berbeda pendapat mengenai subjek pembicaraan Jumat, dengan Iran menolak seruan AS untuk membahas persenjataan rudalnya dan menyatakan bahwa diskusi hanya akan terbatas pada pembahasan ambisi nuklir Teheran. Iran adalah produsen minyak utama, dan terletak di sebelah Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia untuk minyak mentah,” kata Ibrahim.

Kondisi geopolitik ini menjadi faktor penting karena berpotensi mempengaruhi harga energi global dan stabilitas pasar keuangan internasional, yang pada akhirnya berdampak pada pergerakan nilai tukar.

Data Ketenagakerjaan AS Tekan Dolar

Selain faktor geopolitik, pasar juga menyoroti perkembangan data ketenagakerjaan Amerika Serikat. Ibrahim menyebutkan bahwa data pemutusan hubungan kerja Challenger menunjukkan perusahaan-perusahaan AS memangkas jumlah karyawan pada Januari dengan laju tercepat sejak resesi besar pada 2009.

Data lain turut memperkuat sinyal pelemahan pasar tenaga kerja AS. Klaim pengangguran mingguan tercatat meningkat lebih besar dari perkiraan, sementara data lowongan kerja untuk Desember juga berada di bawah ekspektasi pasar.

Menurut Ibrahim, rangkaian data tersebut berpotensi mempengaruhi arah kebijakan moneter The Fed ke depan. “Pasar tenaga kerja yang mendingin memberi The Fed lebih banyak dorongan untuk memangkas suku bunga, dengan dolar berada di bawah tekanan akibat hal ini,” jelasnya.

Namun demikian, ia menambahkan bahwa pasar masih menyimpan ketidakpastian terkait kebijakan moneter AS di bawah kepemimpinan Warsh. Mantan gubernur The Fed tersebut dinilai sebagai sosok yang kurang dovish untuk posisi puncak di bank sentral AS, sehingga arah kebijakan ke depan belum sepenuhnya jelas.

Sentimen Domestik: Outlook Utang Indonesia Jadi Sorotan

Dari dalam negeri, sentimen yang mempengaruhi pergerakan rupiah berasal dari hasil penilaian lembaga pemeringkat internasional Moody’s Ratings. 

Lembaga tersebut menurunkan rating outlook atau prediksi utang Indonesia dari stabil menjadi negatif, meskipun tetap mempertahankan peringkat utang Indonesia di level layak investasi atau investment grade.

Perubahan outlook ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap kebijakan yang dinilai semakin sulit diprediksi, isu tata kelola, serta ketidakpastian yang dapat mempengaruhi kepercayaan investor. 

Jika kondisi tersebut terus berlanjut, Moody’s memperkirakan hal itu berpotensi menggerus kredibilitas kebijakan Indonesia yang selama ini telah dibangun.

Meski demikian, Moody’s tetap mempertahankan peringkat Indonesia di level Baa2. Artinya, Indonesia masih berada dalam kategori investment grade, yang menjadi faktor penahan bagi tekanan yang lebih besar terhadap rupiah.

“Penurunan rating ini menambah deretan peringatan terhadap meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan melemahnya tata kelola pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Moody’s juga menyoroti tantangan yang dihadapi pemerintahan Prabowo dalam upaya memulihkan kepercayaan pasar dan mencegah aksi jual besar-besaran aset Indonesia,” pungkas Ibrahim.

Terkini