Beras

Stok Beras Melimpah Dorong Indonesia Jadi Pemasok Pangan Penting Di Kawasan

Stok Beras Melimpah Dorong Indonesia Jadi Pemasok Pangan Penting Di Kawasan
Stok Beras Melimpah Dorong Indonesia Jadi Pemasok Pangan Penting Di Kawasan

JAKARTA - Indonesia mencatat capaian stok beras pemerintah (CBP) yang membanggakan. 

Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman, memperkirakan cadangan beras pemerintah akan mencapai 5 juta ton dalam sebulan ke depan. 

Angka ini menjadi tonggak sejarah dan membuka peluang ekspor ke berbagai negara tetangga, sekaligus memastikan ketahanan pangan nasional menjelang Ramadan dan musim mudik Lebaran 2026.

“Stok (CBP) kita hari ini 3,9 juta ton. Minggu ini Insya Allah 4 juta ton dan 1 bulan ke depan 5 juta ton. Ini belum pernah terjadi selama sejarah Republik Indonesia,” ujar Amran.

Ia menambahkan, estimasi pada April akan mencapai 5,2 juta ton, dan bulan-bulan berikutnya diprediksi mencapai 6 juta ton.

Pertumbuhan Stok Beras Nasional

Catatan Bapanas menunjukkan realisasi pengadaan beras domestik per 11 Maret 2026 mencapai 928,2 ribu ton, meningkat signifikan dibanding periode yang sama tahun lalu sebanyak 719,3 ribu ton. Peningkatan ini menunjukkan keberhasilan pemerintah dalam menjaga pasokan beras di tengah fluktuasi kebutuhan domestik.

Amran menegaskan, capaian ini merupakan hasil kerja sama semua pihak di bawah arahan Presiden. “Ini adalah kerja keras kita semua yang membuahkan hasil di bawah gagasan besar Bapak Presiden. Bapak Presiden kita luar biasa, menggerakkan ekonomi rakyat. Capaian kita alhamdulillah, luar biasa,” jelasnya.

Ketersediaan Stok dan Distribusi

Selain memperkuat cadangan pemerintah, stok beras juga didistribusikan untuk menghadapi bencana alam. 

Perum Bulog menyalurkan beras ke beberapa provinsi terdampak banjir dan longsor di Sumatra, termasuk Aceh. Foto pekerja berjalan di atas tumpukan karung beras di gudang Bulog Lambaro memperlihatkan kesiapan pemerintah menyalurkan pangan secara merata.

Menteri Amran menambahkan, stok nasional saat ini mencapai 27,99 juta ton, terdiri dari 3,76 juta ton di Bulog, sekitar 12,50 juta ton di masyarakat, serta standing crop atau padi siap panen sebanyak 11,73 juta ton. 

“Kalau kita lihat data hari ini, ketersediaan pangan kita sangat aman. Total stok beras nasional cukup untuk 324 hari ke depan atau sekitar 10,8 bulan, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir,” ujarnya.

Peluang Ekspor Beras

Melimpahnya cadangan beras memberikan ruang ekspor yang lebih luas. Indonesia telah mulai mengekspor beras ke Arab Saudi sebagai bahan konsumsi jemaah haji.

“Kita sudah mulai ekspor ke negara lain, dan Insya Allah mudah-mudahan tiga negara menyusul. Kita ekspor ke negara tetangga,” ujar Amran.

Langkah ini tidak hanya memperkuat posisi Indonesia di pasar global, tetapi juga menegaskan kemampuan negara untuk menjadi pemasok pangan utama di kawasan Asia Tenggara. Potensi ekspor ini semakin relevan karena ketersediaan stok dalam negeri yang cukup dan harga tetap stabil.

Produksi Nasional dan Cadangan Strategis

Produksi beras nasional tetap tinggi, berkisar antara 2,6 hingga 5,7 juta ton per bulan, di atas konsumsi rata-rata nasional yang mencapai 2,59 juta ton. 

Pada periode Januari hingga Mei 2026, produksi beras tercatat 16,92 juta ton, dengan rata-rata bulanan antara 2,6–5,7 juta ton.

“Produksi kita tetap terjaga. Bahkan dalam beberapa bulan produksi bisa mencapai 5,7 juta ton, sehingga pasokan domestik sangat kuat,” jelas Amran.

Cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog saat ini mencapai 3,7 juta ton, dan diperkirakan bisa mencapai 5 juta ton dalam dua bulan ke depan. 

Ketersediaan ini menjadi jaminan ketahanan pangan nasional, termasuk untuk stabilisasi harga maupun bantuan pangan bagi masyarakat terdampak bencana.

Stabilitas Harga dan Keamanan Pangan

Amran menegaskan, stok beras yang melimpah juga memastikan stabilitas harga. Perum Bulog menyalurkan beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) ke seluruh pasar tradisional, termasuk wilayah Bogor. 

Distribusi ini menjamin masyarakat tetap mendapatkan beras dengan harga terjangkau, bahkan di tengah ketegangan geopolitik global atau potensi El Nino.

“Kita tidak terlalu terpengaruh dengan kondisi geopolitik global maupun potensi El Nino. Produksi kita kuat, stok kita aman,” kata Amran. 

Ia menambahkan bahwa pemerintah telah mengambil langkah antisipatif, termasuk penguatan distribusi, cadangan strategis, serta koordinasi dengan pemerintah daerah.

Capaian stok beras pemerintah yang diperkirakan 5 juta ton menegaskan ketahanan pangan Indonesia yang kuat. 

Dengan produksi nasional yang tinggi, distribusi Bulog yang efisien, dan cadangan strategis yang memadai, masyarakat dapat tetap mengakses pangan dengan harga stabil.

Selain memenuhi kebutuhan domestik, ketersediaan beras ini membuka peluang ekspor ke negara lain, memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan beras global, dan meminimalkan risiko kekurangan pangan. 

Kerja sama pemerintah, Bulog, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan menjaga ketahanan pangan yang berkelanjutan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index