Kepala BPOM

Kepala BPOM Ungkap Peluang Jamu dan Rempah Indonesia Mendunia

Kepala BPOM Ungkap Peluang Jamu dan Rempah Indonesia Mendunia
Kepala BPOM Ungkap Peluang Jamu dan Rempah Indonesia Mendunia

JAKARTA - Pengakuan internasional terhadap produk-produk berbasis kearifan lokal Indonesia menjadi sinyal kuat bahwa potensi Nusantara semakin mendapat tempat di pasar dunia.

 Tidak hanya sektor industri modern, kekayaan tradisional seperti jamu, rempah-rempah, dan kuliner khas daerah kini menunjukkan daya saing yang nyata. Kondisi ini membuka ruang besar bagi Indonesia untuk mengoptimalkan produk berbasis budaya sebagai kekuatan ekonomi dan kesehatan global.

Dalam konteks tersebut, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memegang peran strategis, terutama dalam memastikan standar mutu, keamanan, dan legalitas produk agar dapat diterima di pasar internasional. 

Kepala BPOM RI Taruna Ikrar menilai bahwa apa yang telah dicapai sejauh ini merupakan fondasi penting untuk mendorong produk lokal Indonesia tampil lebih percaya diri di tingkat dunia.

Jamu Indonesia Telah Mendapatkan Pengakuan Dunia

"Kami sudah mengeluarkan 20 ribu izin edar khusus untuk jamu. Ini berarti jamu Indonesia banyak sekali dan sudah diakui dunia," kata Kepala BPOM RI Taruna Ikrar.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa jamu bukan lagi sekadar produk tradisional yang beredar di pasar domestik. Dengan jumlah izin edar yang telah mencapai sekitar 20 ribu, jamu Indonesia menunjukkan keberagaman, kekayaan formulasi, serta tingkat kepercayaan yang semakin kuat, baik di dalam maupun luar negeri.

Taruna Ikrar menyampaikan bahwa kondisi ini menjadi bukti konkret besarnya peluang yang dimiliki Indonesia. Produk jamu buatan dalam negeri dinilai mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap aspek kesehatan, sejalan dengan tren global yang semakin mengarah pada penggunaan produk herbal dan alami.

"Jadi Indonesia punya jamu terbesar di dunia," ucapnya.

Potensi Lokal Perlu Diamplifikasi Agar Berdampak Global

Kepala BPOM menegaskan potensi yang ada tersebut hendaknya diamplifikasi. Dengan kata lain, lanjut dia, peluang ini harus diperluas atau ditingkatkan, meskipun hanya produk lokal tetapi dapat memberikan pengaruh secara global.

Menurut Taruna Ikrar, keberhasilan jamu Indonesia seharusnya menjadi pemicu untuk mendorong pengembangan produk lokal lainnya. Produk yang berangkat dari kearifan lokal tidak boleh berhenti pada kebanggaan domestik semata, melainkan harus diarahkan agar mampu bersaing dan memberi dampak di pasar internasional.

Ia menilai bahwa penguatan sistem, peningkatan kualitas, serta perluasan jejaring global menjadi kunci agar produk lokal dapat terus naik kelas. Dalam hal ini, peran lembaga pengawas dan pemangku kepentingan menjadi penting untuk memastikan produk-produk tersebut memenuhi standar global tanpa kehilangan identitas budaya.

Rendang dan Rempah Jadi Contoh Keunggulan Nusantara

Hal tersebut, kata dia, sama halnya dengan produk lokal lainnya, seperti rendang dan rempah-rempah, yang memiliki potensi besar dan keunggulan sehingga dapat mendongkrak produk Indonesia menembus pasar internasional.

Kuliner khas Indonesia, khususnya rendang, menjadi contoh nyata bagaimana produk lokal mampu mendapatkan pengakuan global. Rendang yang berasal dari Minangkabau tidak hanya dikenal luas, tetapi juga memperoleh penilaian tinggi di tingkat dunia.

Bahkan khusus rendang yang merupakan masakan atau kuliner khas Minangkabau meraih peringkat pertama pada 2025 sebagai hidangan kelapa terbaik di dunia berdasarkan platform TasteAtlas. Hal ini sekaligus menandakan pengakuan dunia atas potensi Nusantara.

Pengakuan tersebut memperkuat pandangan bahwa produk kuliner Indonesia memiliki nilai ekonomi, budaya, dan daya saing yang sangat tinggi jika dikelola secara serius.

"Ini potensi besar, sehingga bisa pula ke depannya dibuat center of excellent rendang atau semacamnya," ujar Taruna Ikrar.

Rempah Nusantara Warisan Sejarah dan Kekuatan Ekonomi

Sementara untuk rempah, kata dia, sebagaimana diketahui telah menjadi produk unggulan sejak ratusan tahun lalu. Bahkan dulunya Indonesia diperebutkan bukan karena minyak bumi, melainkan karena rempah-rempahnya.

Rempah-rempah telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Indonesia. Nilai strategis rempah Nusantara bahkan menjadi alasan utama bangsa-bangsa dunia datang ke wilayah ini ratusan tahun lalu. Hingga kini, rempah tetap menjadi komoditas unggulan yang memiliki permintaan tinggi di pasar internasional.

BPOM, menurut Taruna Ikrar, terus berupaya menyelesaikan berbagai persoalan yang berkaitan dengan rempah agar tetap mampu bersaing dan memberikan kontribusi ekonomi yang optimal.

Penyelesaian Masalah Mutu Jadi Kunci Kepercayaan Global

"Kami sempat khawatir saat BPOM Amerika menemukan kandungan zat radioaktif Cesium-137 (Cs-137) pada cengkeh yang dikirim dari Indonesia beberapa waktu lalu. Namun kami sudah menyelesaikan segala permasalahannya, sehingga rempah itu sudah tidak bermasalah lagi," ucap Kepala BPOM Taruna Ikrar.

Penyelesaian kasus tersebut menunjukkan pentingnya pengawasan ketat dan respons cepat dalam menjaga reputasi produk Indonesia di pasar global. Kepercayaan internasional menjadi faktor krusial agar produk jamu, rempah, dan kuliner Nusantara dapat terus berkembang dan memperluas jangkauan pasar.

Dengan fondasi kuat, pengakuan dunia, serta komitmen pengawasan yang konsisten, produk-produk Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk terus melangkah sebagai kekuatan global berbasis budaya dan kearifan lokal.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index