JAKARTA - Produser sekaligus kreator Denny Siregar kembali menjadi perbincangan lantaran keputusan berani yang diambilnya dalam proyek film terbarunya, Tanah Runtuh. Alih-alih memilih aktor konvensional yang sudah mapan, Siregar menunjuk seorang anak dengan sindrom Down sebagai tokoh utama dalam film yang diproduksinya melalui rumah produksi Denny Siregar Production. Langkah ini disebut sebagai sebuah gebrakan yang jarang ditemui dalam perfilman Indonesia, mengingat jarangnya porsi besar diberikan kepada pemeran berkebutuhan khusus dalam narasi utama.
Keputusan tersebut bukan sekadar gimmick semata, melainkan sebuah upaya eksplisit untuk mengubah konstruksi stereotip terhadap penyandang difabel, khususnya yang berkaitan dengan representasi mereka dalam karya sinematik. Dengan posisi cerita yang benar-benar terikat pada tokoh sentralnya, Denny ingin publik menyadari bahwa kekuatan emosi dan nilai naratif bisa bersumber dari karakter yang selama ini kurang mendapat sorotan.
Cerita Persaudaraan yang Melampaui Label Sosial
Tanah Runtuh sendiri diangkat dari tema besar tentang hubungan persaudaraan dan dinamika keluarga, dengan latar situasi kehilangan dan kerapuhan hidup yang tidak mudah dijalani. Tema ini dibalut tagar kampanye #trbrotherhood, yang semakin menguatkan fokus cerita pada hubungan batin yang universal — bukan sekadar tragedi individual atau narasi penderitaan.
Dalam konteks naratifnya, sang tokoh berkebutuhan khusus justru ditampilkan aktif dalam dinamika cerita, bukan hanya menjadi objek belas kasihan atau konflik semata. Pilihan ini secara jelas menempatkan karakter tersebut sebagai pegang kendali nilai emosional yang menggerakkan alur, sekaligus menunjukkan bahwa keterbatasan fisik atau neurologis tidak otomatis menciptakan “beban naratif”.
Keputusan ini menjadi sebuah penegasan tentang pentingnya perspektif baru dalam cara kita memahami hubungan antar-pribadi di dalam keluarga dan masyarakat. Alih-alih mengeksploitasi kondisi tokoh untuk memancing simpati, film ini justru mengundang penonton untuk melihat kedalaman karakter secara utuh.
Apa Arti “Nekat” dalam Perfilman Indonesia?
Langkah Siregar sering disebut “nekat” oleh sejumlah pihak karena profil pemeran utama yang tidak biasa — seorang anak Down syndrome — yang belum tentu memiliki pengalaman akting profesional. Namun menurut sang produser, pemilihan ini merupakan sebuah bentuk kepercayaan terhadap kemampuan aktor tersebut serta keyakinan bahwa emosi yang tulus dan natural dapat tumbuh dari keberagaman hidup nyata, bukan sekadar latihan atau teknik semata.
Siregar menyatakan bahwa film ini ingin mematahkan stigma yang selama ini melekat pada penyandang Down syndrome. Mereka dianggap sering dipinggirkan di media atau hanya tampil dalam peran pendukung. Dalam Tanah Runtuh, mereka justru menjadi motor utama emosi dan refleksi penonton terhadap tema besar film. Fokusnya bukan pada keterbatasan, melainkan kekuatan karakter yang relevan dengan cerita keluarga universal.
Seperti dikutip dari pernyataannya, “kami ingin menunjukkan anak dengan Down syndrome dapat tampil sebagai tokoh utama yang kuat dan relevan”, yang menggarisbawahi bahwa film ini bukan tentang “belas kasihan”, melainkan soal memberi ruang dan penghormatan terhadap eksistensi yang sering diabaikan.
Mendobrak Stereotip tanpa Mengada-ada
Salah satu aspek penting dalam Tanah Runtuh adalah cara film ini menghadirkan tokoh berkebutuhan khusus tanpa menjadikannya konflik utama atau sumber drama yang dibuat-buat. Hal ini kontras dengan banyak karya lain yang sering menempatkan kondisi difabel sebagai plot device untuk menghasilkan simpati atau air mata. Di sini, film justru memberi porsi penceritaan yang setara — aktor Down syndrome berperan aktif dan memiliki kompleksitas naratif sendiri.
Kehadiran tokoh tersebut tidak dipisahkan sebagai sesuatu yang “lain” atau terpisah dari dinamika keluarga. Justru, ia menjadi bagian integral dari bagaimana cerita tentang persaudaraan, kehilangan, dan penerimaan dieksplorasi secara emosional. Strategi ini juga memperlihatkan bahwa representasi inklusif tidak identik dengan sentimentalisme, tetapi bisa berdiri sebagai narasi kuat yang berbicara lintas pengalaman manusia.
Potensi Dampak Sosial dan Perfilman
Dengan pemilihan casting yang tidak biasa ini, Tanah Runtuh berpotensi membuka jalan baru dalam sinema Indonesia, terutama dalam hal representasi difabel. Masyarakat umum mungkin akan melihat bahwa film tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga medium yang memampukan suara-suara yang selama ini kurang terdengar.
Ke depan, keputusan artistik semacam ini dapat mendorong pembuat film lain untuk memikirkan kembali siapa yang layak menjadi tokoh utama, serta bagaimana sebuah cerita bisa mengangkat tema besar tanpa bergantung pada stereotip yang sudah usang. Film ini, dengan demikian, tidak hanya menjadi karya seni, tetapi juga bagian dari diskursus lebih luas soal keterlibatan sosial dalam industri kreatif.