Wamen Stella Dorong Mahasiswa Berinovasi di Tengah Gempuran Teknologi AI

Senin, 09 Februari 2026 | 13:49:06 WIB
Wamen Stella Dorong Mahasiswa Berinovasi di Tengah Gempuran Teknologi AI

JAKARTA - Di tengah era yang semakin dipenuhi dengan kemajuan kecerdasan buatan (AI), Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menegaskan bahwa penting bagi mahasiswa untuk selalu berpikir kritis dan reflektif. 

Dalam acara Festival Ilmiah Santri 2026 yang digelar oleh STAIMA Al-Hikam di Malang, Stella menyoroti dampak besar yang ditimbulkan oleh kecerdasan buatan dalam aspek kehidupan manusia, termasuk dalam dunia pendidikan, ekonomi, dan sosial. 

Bagi Stella, mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa harus siap untuk menghadapinya dengan kecakapan berpikir yang tajam, guna menghadapi tantangan serta memanfaatkan AI dengan bijak.

Dampak AI dalam Dunia Pendidikan dan Ekonomi

Dalam pandangannya, perkembangan teknologi AI membawa dampak yang sangat signifikan terhadap sektor ekonomi, pendidikan, dan juga dinamika sosial. AI, yang selama ini dianggap sebagai alat untuk mempermudah pekerjaan, ternyata memiliki potensi besar dalam mengubah hampir semua sektor kehidupan manusia. 

Salah satu dampaknya, terutama dalam sektor pendidikan, adalah perubahan cara kita belajar dan mengakses informasi. AI yang dapat menyediakan akses informasi secara cepat dan terukur sering kali membuat kita lupa untuk memeriksa kebenaran informasi tersebut.

“Apakah bijak jika kita mengeluarkan uang untuk melatih AI dibanding mencerdaskan anak muda kita? Bahkan banyak ahli yang masih memperdebatkan hal ini,” ujar Stella. 

Dalam hal ini, Wamendiktisaintek mempertanyakan apakah kecerdasan buatan seharusnya menjadi prioritas investasi dibandingkan dengan penguatan pendidikan generasi muda.

Kritis terhadap Penggunaan AI di Era Informasi

Salah satu hal yang disoroti Stella adalah maraknya penyebaran hoaks yang semakin sulit dibedakan, berkat keberadaan teknologi AI. Dengan algoritma yang bekerja otomatis, informasi yang diberikan oleh AI sering kali bisa sangat bias atau bahkan menyesatkan. 

“Jika kita tidak berhati-hati, teknologi ini bisa memperburuk keadaan dengan menyebarkan informasi yang salah,” ujar Stella. Menghadapi kenyataan ini, Wamendiktisaintek menekankan pentingnya literasi AI di kalangan mahasiswa.

Pemahaman yang baik tentang bagaimana AI bekerja dan bagaimana mengevaluasi informasi yang diberikan sangat penting agar para mahasiswa dapat memanfaatkan teknologi ini dengan lebih bijak. 

“Jika Anda tidak mampu berpikir reflektif dan mengevaluasi data yang diberikan oleh AI, maka Anda akan sangat tergantung padanya, dan inilah yang harus kita hindari,” lanjutnya. 

Ia pun mendorong mahasiswa untuk selalu mengedepankan pemikiran kritis, bukan hanya mengikuti apa yang disampaikan oleh teknologi tersebut.

Peran Penting Literasi AI dalam Pendidikan

Menurut Stella, literasi tentang kecerdasan buatan tidak hanya penting untuk memahami alat tersebut tetapi juga untuk menghindari kesalahan dalam menggunakannya. AI dapat menjadi alat yang sangat kuat dalam pendidikan jika digunakan dengan bijaksana, tetapi bisa menjadi ancaman besar jika tidak dipahami dengan benar.

Misalnya, AI yang digunakan dalam pembelajaran online dapat mengarah pada informasi yang keliru, jika pengguna tidak memiliki kemampuan untuk mengkritisi dan menganalisis data tersebut.

“Di era digital ini, kita harus tahu kapan teknologi membantu kita dan kapan kita harus berhati-hati agar tidak dikuasai olehnya. Oleh karena itu, memiliki kemampuan berpikir kritis adalah hal yang sangat penting,” ujar Stella. 

Ia menegaskan bahwa kemampuan untuk berpikir kritis bukan hanya tentang bagaimana menganalisis data, tetapi juga bagaimana mengambil keputusan yang tepat dalam berbagai situasi yang dihadapi.

Inovasi dari Kampus: Menjadi Pencipta, Bukan Pengikut

Stella juga mengingatkan bahwa kampus merupakan tempat yang strategis untuk mengembangkan inovasi dan riset teknologi. Kampus tidak hanya seharusnya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga menjadi tempat lahirnya penemuan baru, termasuk dalam hal kecerdasan buatan. 

Banyak perusahaan besar yang saat ini mengembangkan AI, pada dasarnya bermula dari riset yang dilakukan di kampus-kampus ternama.

“Perusahaan-perusahaan besar yang kita lihat sekarang ini banyak yang berawal dari dunia akademik. Kampus adalah tempat yang bisa melahirkan inovasi yang nantinya akan berdampak besar bagi masyarakat,” ujar Stella, memberikan semangat kepada mahasiswa untuk berani menciptakan teknologi yang bermanfaat. 

Di dunia yang penuh dengan kemajuan teknologi, mahasiswa tidak hanya diharapkan untuk memahami teknologi, tetapi juga untuk dapat menciptakan solusi baru yang dapat membantu memecahkan masalah yang ada di masyarakat.

Menciptakan Pemimpin Masa Depan dengan Berpikir Kritis

Sebagai penutup, Wamendiktisaintek menekankan bahwa generasi muda, terutama mahasiswa, harus terus didorong untuk berpikir kritis dan berinovasi. 

Dalam menghadapi era digital yang semakin berkembang, mahasiswa harus mampu menjadi pemimpin yang tidak hanya mengikuti tren tetapi juga mampu menciptakan tren tersebut. 

“Mari kita jadikan kampus sebagai tempat untuk menghasilkan solusi-solusi kreatif yang bisa mengubah dunia,” ujar Stella.

Ia berharap mahasiswa dapat menjadi pelopor dalam perkembangan teknologi yang tidak hanya menguntungkan, tetapi juga bertanggung jawab terhadap dampak sosialnya.

Stella juga menambahkan bahwa untuk dapat bersaing di dunia global, mahasiswa harus siap menghadapi perubahan, bukan hanya dengan mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga dengan menciptakan terobosan baru yang dapat membawa manfaat luas bagi masyarakat. 

"Kampus harus menjadi tempat di mana mahasiswa dilatih untuk menciptakan inovasi yang tidak hanya relevan dengan kebutuhan zaman, tetapi juga mampu memberikan dampak positif bagi seluruh umat manusia," tandasnya.

Terkini