JAKARTA - Upaya pemerintah mempercepat pemenuhan kebutuhan hunian layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah terus menunjukkan arah yang jelas.
Salah satu motor penggeraknya adalah sinergi antara kementerian teknis dan perbankan nasional. Dalam konteks ini, peran PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dinilai semakin strategis, khususnya dalam pembiayaan rumah subsidi yang menjadi tulang punggung program perumahan nasional.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait menyampaikan keyakinannya bahwa BRI mampu menjadi tulang punggung pembiayaan Kredit Program Perumahan (KPP) pada 2026.
Optimisme tersebut bukan tanpa dasar, melainkan berangkat dari konsistensi kinerja BRI dalam menyalurkan pembiayaan rumah subsidi dari tahun ke tahun. Pemerintah pun menaruh harapan besar agar capaian ini dapat terus meningkat seiring target nasional penyediaan hunian layak bagi rakyat.
“Tahun 2026, BRI menargetkan penyaluran hingga 60 ribu unit rumah subsidi. Artinya, akan ada 60 ribu rakyat yang dapat menikmati rumah layak,” ujar Maruarar.
Keyakinan Pemerintah Berangkat dari Rekam Jejak Positif BRI
Kepercayaan Menteri PKP terhadap BRI didasarkan pada data historis penyaluran rumah subsidi yang menunjukkan tren peningkatan signifikan. Pada 2024, BRI tercatat membiayai sekitar 16.000 unit rumah subsidi.
Jumlah tersebut kemudian melonjak tajam pada 2025 menjadi sekitar 32.000 unit atau meningkat hampir dua kali lipat hanya dalam satu tahun.
Lonjakan tersebut menjadi indikator kuat bahwa BRI memiliki kapasitas, jaringan, serta komitmen jangka panjang untuk mendukung agenda perumahan nasional.
Maruarar menilai, peningkatan tersebut bukan sekadar pencapaian angka, melainkan cerminan keberpihakan nyata terhadap masyarakat berpenghasilan rendah yang selama ini menghadapi keterbatasan akses pembiayaan perumahan.
“Terima kasih sekali untuk BRI. Kontribusi ini sangat penting dalam mendukung penyediaan hunian bagi masyarakat luas,” pungkas Maruarar.
BRI Perkuat Dukungan Program 3 Juta Rumah Nasional
Komitmen BRI dalam pembiayaan hunian terjangkau sejalan dengan Program 3 Juta Rumah yang menjadi prioritas nasional dan bagian dari Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Program ini menempatkan sektor perumahan sebagai salah satu pilar peningkatan kesejahteraan rakyat sekaligus penggerak ekonomi nasional.
Sepanjang 2025, BRI mencatat penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Subsidi senilai Rp16,16 triliun kepada lebih dari 118 ribu debitur. Dari total tersebut, sekitar 97% disalurkan melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).
Skema ini dirancang untuk memastikan masyarakat berpenghasilan rendah memperoleh pembiayaan dengan bunga terjangkau dan tenor yang sesuai.
“Salah satu program prioritas nasional yang kami dukung adalah Program 3 Juta Rumah yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto. Dengan jaringan yang luas serta pengalaman panjang dalam melayani segmen mikro dan kecil, BRI optimistis dapat berperan aktif dalam memperluas akses kepemilikan rumah bagi masyarakat,” ujar Direktur Utama BRI, Hery Gunardi.
Jaringan Luas Jadi Kekuatan BRI Salurkan KPR Subsidi
Hery menegaskan bahwa keberpihakan BRI kepada masyarakat kecil bukan sekadar wacana, melainkan tercermin dari infrastruktur dan jaringan distribusi yang dimiliki. Dengan lebih dari 7.500 unit kerja yang tersebar di seluruh Indonesia, BRI dinilai memiliki keunggulan dalam menjangkau masyarakat hingga ke wilayah pelosok.
Jaringan ini menjadi modal penting dalam memastikan program pembiayaan rumah subsidi dapat tersalurkan secara merata, tidak hanya terpusat di wilayah perkotaan.
Pemerataan akses inilah yang menjadi salah satu kunci keberhasilan Program 3 Juta Rumah, terutama untuk menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini sulit mengakses pembiayaan formal.
Konsistensi BRI dalam mendukung sektor perumahan juga memperkuat posisinya sebagai mitra utama pemerintah. Tidak hanya dari sisi pembiayaan, tetapi juga dari aspek pendampingan dan keberlanjutan program, sehingga manfaat kepemilikan rumah dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Pemberdayaan Ekonomi Pascamilik Rumah Jadi Fokus Tambahan
Peran BRI tidak berhenti pada penyaluran KPR subsidi. Bank pelat merah ini juga memperkuat ekosistem pemberdayaan ekonomi pascamilik rumah agar kepemilikan hunian benar-benar menjadi titik awal peningkatan kesejahteraan.
Melalui sinergi dengan PNM Mekaar, BRI memberikan akses pembiayaan produktif kepada ibu-ibu pra-sejahtera untuk mengembangkan usaha rumah tangga.
Akses pembiayaan tersebut dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan produktif, mulai dari usaha kuliner, kerajinan, hingga usaha mikro lainnya yang dapat dijalankan dari rumah. Inisiatif ini dinilai efektif dalam memutus mata rantai ketergantungan masyarakat terhadap praktik rentenir yang selama ini membebani kelompok ekonomi lemah.
“Kami ingin memastikan, rumah bukan hanya menjadi tempat tinggal yang layak, tetapi juga menjadi titik awal bagi masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi,” jelas Hery.
Menteri PKP Maruarar Sirait kembali menegaskan apresiasinya terhadap kontribusi BRI, khususnya dalam peningkatan signifikan jumlah rumah subsidi yang dibiayai. Ia menilai BRI mencatatkan persentase kenaikan tertinggi dibandingkan lembaga lainnya.
“BRI itu konstribusinya untuk rumah subsidi naik sekitar 100%. Tahun 2024 itu ada 16 ribu unit yang dibiayai oleh BRI. Tahun 2025 menjadi 32 ribu unit. Ini kenaikan dari presentasi yang terbesar,” ungkap Maruarar.
Ia juga menyoroti capaian FLPP pada masa awal pemerintahan Presiden Prabowo yang mencatat sejarah baru. “Baru setahun pemerintah Presiden Prabowo, tahun 2025, itu kenaikan yang luar biasa yaitu 279 ribu (unit rumah). Jadi ada kenaikan sekitar 50 ribu dalam setahun ini,” katanya.
Dengan capaian tersebut, BRI semakin mengukuhkan posisinya sebagai mitra utama pemerintah dalam memperluas akses hunian terjangkau. Dukungan berkelanjutan ini menjadi elemen penting dalam mewujudkan Asta Cita serta mendorong pertumbuhan ekonomi rakyat dari akar rumput.