Danantara Tahun 2026 Tetapkan Target Laba Bersih BUMN Rp360 Triliun Nasional

Kamis, 26 Februari 2026 | 14:49:57 WIB
Danantara Tahun 2026 Tetapkan Target Laba Bersih BUMN Rp360 Triliun Nasional

JAKARTA - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mengungkapkan target ambisius untuk mendorong laba bersih seluruh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mencapai Rp360 triliun pada tahun 2026. Proyeksi tersebut muncul setelah satu tahun penuh transformasi korporasi dan restrukturisasi yang dilakukan oleh holding investasi pelat merah itu untuk memperbaiki kinerja BUMN secara kolektif.

Dalam sebuah diskusi yang digelar di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, awal tahun ini, para pemimpin Danantara menegaskan bahwa sejumlah langkah strategis dilakukan untuk memperkuat tata kelola, sinergi antar-BUMN, serta efisiensi operasional. Meskipun target baru ini lebih tinggi dibandingkan realisasi sebelumnya yang berada di kisaran Rp280 triliun hingga Rp285 triliun, manajemen optimistis dengan arah reformasi yang ditempuh.

Transformasi dan Evaluasi Kinerja BUMN

Menurut Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara, Dony Oskaria, lonjakan target laba ini sejalan dengan transformasi menyeluruh yang telah diimplementasikan over the past year pada berbagai perusahaan pelat merah. Menurutnya, perubahan struktur organisasi, penguatan manajemen aset, dan optimalisasi bisnis inti menjadi pendorong utama.

Dony menjelaskan bahwa pada tahun 2025, sepanjang tahun laba perusahaan-perusahaan BUMN sebenarnya mencapai sekitar Rp332 triliun. Namun setelah melakukan penyesuaian berupa penurunan nilai aset atau impairment sekitar Rp55 triliun, perolehan laba bersih turun menjadi sekitar Rp280–285 triliun. “Jadi sebetulnya BUMN itu memberikan kontribusi yang baik, itu baru laba, belum lagi pajak dan lain sebagainya,” ucap Dony.

Transformasi ini juga mencakup upaya pemangkasan jumlah entitas BUMN untuk menciptakan skala usaha yang lebih efisien. Rencana konsolidasi dari lebih dari 1.000 perusahaan menjadi sekitar 300 entitas merupakan salah satu rencana struktural Danantara untuk mempercepat sinergi usaha agar menghasilkan keuntungan yang lebih besar.

Arahan dan Sorotan dari Puncak Pemerintahan

Kinerja Danantara yang dinilai progresif turut menjadi sorotan Presiden RI Prabowo Subianto dalam forum Indonesia Economic Outlook 2026 yang berlangsung di Wisma Danantara, Jakarta, pada 13 Februari 2026. Dalam pidatonya, Presiden meminta agar Danantara bisa mencapai rasio tingkat laba atas aset (ROA) sebesar 7 persen, sebagai tolok ukur efisiensi pengelolaan aset negara.

Prabowo menyatakan bahwa meskipun Danantara baru berjalan satu tahun sejak peresmian pada Februari 2025, pencapaian yang telah diraih menunjukkan hasil signifikan dalam waktu relatif singkat. “Saya dapat laporan sementara, hasil efisiensi dan reformasi Saudara sudah melahirkan hasil empat kali lipat daripada tahun 2024. Ini luar biasa, tapi harus terus dikejar,” tegasnya dalam forum tersebut.

Danantara sendiri diresmikan dengan mandat untuk menjadi holding yang mengelola investasi BUMN secara lebih terintegrasi, disiplin, dan berorientasi pada jangka panjang. Pada saat perkenalan lembaga ini, diproyeksikan bahwa Danantara akan mengelola dana lebih dari 900 miliar dollar AS atau sebanding dengan Rp14.000 triliun, yang mencakup aset dan modal besar dari sejumlah perusahaan pelat merah.

Pendekatan Tata Kelola BUMN yang Lebih Terpadu

CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani menilai bahwa satu tahun keberadaan Danantara merupakan periode penting untuk menanamkan nilai investasi jangka panjang serta memastikan BUMN bergerak dalam satu orkestrasi nasional. Rosan menyatakan bahwa fokus utama Danantara bukan sekadar mengumpulkan laba, tetapi mengintegrasikan arah investasi, memperkuat tata kelola, serta membangun kepercayaan di pasar global.

Rosan menegaskan bahwa ke depan perusahaan-perusahaan BUMN tidak lagi bekerja sendiri-sendiri, melainkan harus saling melengkapi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Hal ini juga disampaikan melalui unggahan Rosan di akun media sosialnya pada 26 Februari 2026.

Selain itu, Danantara menyusun strategi untuk memperkuat kinerja BUMN yang berada pada posisi penting dalam struktur industri nasional, seperti di sektor perbankan, telekomunikasi, dan infrastruktur. Misalnya, BUMN besar seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, PT Bank Mandiri Tbk, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk dipandang berada pada posisi yang tepat untuk mengembangkan pendapatan seiring biaya dana yang lebih rendah serta permintaan pinjaman yang meningkat.

Tantangan dan Harapan Ke Depan

Meskipun transformasi dan konsolidasi menjadi fokus utama, Danantara juga dihadapkan pada tantangan dalam eksekusi strategi ini. Restrukturisasi keuangan dilakukan secara selektif, dengan injeksi modal hanya akan diberikan kepada perusahaan BUMN yang memiliki model bisnis jelas dan mampu mencatatkan kontribusi margin positif.

Pengamat BUMN dan Direktur NEXT Indonesia Center, Herry Gunawan, menilai bahwa konsolidasi menjadi langkah yang sangat diperlukan karena selama ini banyak BUMN yang menjalankan bisnis di luar inti usaha mereka hingga menyebabkan tumpang tindih. “Konsolidasi menjadi keharusan untuk segera dilakukan,” ujar Herry menekankan bahwa efisiensi menjadi kunci pertumbuhan jangka panjang BUMN.

Masuknya Danantara dalam lingkup pengelolaan aset negara besar diharapkan tidak hanya meningkatkan performa perusahaan pelat merah, tetapi juga menciptakan dampak ekonomi nasional yang lebih luas. Dengan struktur yang terintegrasi dan arah investasi yang lebih fokus, diharapkan BUMN bisa memperkuat perannya sebagai motor penggerak pembangunan nasional dalam dekade mendatang.

Terkini