Pertumbuhan Ekonomi RI 2025 Capai 5,11 Persen, OJK Siap Akselerasi Program 2026

Senin, 09 Februari 2026 | 10:56:28 WIB

JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2025 berhasil mencapai 5,11 persen, menunjukkan performa yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya meski diliputi ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi. Data yang baru saja dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) mengonfirmasi bahwa ekonomi nasional mampu mempertahankan momentum positif sebagai dampak dari permintaan domestik yang kuat, stabilitas sektor keuangan, serta reformasi yang berkelanjutan, sekaligus mengindikasikan daya tahan yang solid di tengah gejolak eksternal.

Pencapaian ini tak hanya angka statistik semata. Menurut berbagai data tambahan, sektor konsumsi rumah tangga dan investasi masih menjadi kontributor utama pertumbuhan, sejalan dengan peningkatan aktivitas produksi dan belanja masyarakat. Konsumsi rumah tangga tumbuh signifikan, sementara pembentukan modal tetap bruto (GFCF) juga menunjukkan ekspansi yang kuat seiring meningkatnya permintaan terhadap barang-barang modal yang diperlukan oleh sektor industri dan usaha.

Peran OJK dalam Menjaga Stabilitas dan Momentum Pertumbuhan

Menanggapi capaian tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berpendapat bahwa prospek perekonomian Indonesia ke depan tetap optimis. Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan bahwa lembaganya akan mengoptimalkan peran sebagai penopang stabilitas sistem keuangan sekaligus pendorong pertumbuhan ekonomi. Hal ini disampaikan sebagai respons langsung atas rilis data BPS.

Friderica menyatakan bahwa dalam menjalankan Program Prioritas tahun 2026, OJK akan menekankan berbagai prinsip strategis. Di antaranya adalah prinsip kehati-hatian, penguatan ketahanan sektor jasa keuangan, serta pendalaman pasar keuangan yang dilakukan secara bertahap dan terukur. Ia menyebutkan bahwa semua langkah strategis ini dilakukan tidak hanya untuk menjaga stabilitas tetapi juga untuk mendukung pendanaan program-program prioritas pemerintah dan memperkuat kepercayaan investor serta pelaku pasar.

Langkah OJK ini sejalan dengan kebutuhan untuk menjaga sistem keuangan tetap resilient, mengingat peran sektor jasa keuangan yang sangat penting dalam menopang aktivitas ekonomi, terutama pada masa ketika ketidakpastian global masih tinggi.

Dukungan Internasional: Moody’s Afirmasi Ketahanan Ekonomi RI

Keyakinan terhadap fundamental ekonomi Indonesia juga diperkuat oleh penilaian dari lembaga pemeringkat internasional Moody’s. Menurut Moody’s, struktur ekonomi Indonesia yang kuat serta kebijakan fiskal dan moneter yang prudent menjadi pilar utama ketahanan ekonomi nasional. Penilaian ini menempatkan Indonesia pada posisi yang lebih unggul bila dibandingkan dengan negara-negara lain yang berada pada tingkat perkembangan serupa.

Penegasan Moody’s menjadi penting karena menunjukkan kepercayaan pasar internasional terhadap ekonomi Indonesia, khususnya ketika banyak negara di dunia masih bergulat dengan tekanan global seperti perlambatan perdagangan internasional, meningkatnya biaya pinjaman, serta volatilitas pasar finansial.

OJK melihat penilaian positif dari Moody’s bukan hanya sebagai pengakuan, tetapi juga sebagai refleksi bahwa kapasitas pembuat kebijakan Indonesia dalam mengelola ekonomi semakin dipercaya oleh investor global. Untuk itu, OJK bertekad memperkuat koordinasi nasional guna menciptakan kebijakan yang lebih selaras dan konsisten demi mempertahankan citra positif tersebut.

Sinergi Kebijakan Nasional melalui KSSK

Dalam konteks menjaga stabilitas ekonomi secara lebih luas, OJK juga menekankan pentingnya penguatan koordinasi dengan lembaga-lembaga terkait. Sebagai anggota penting dari Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), OJK menyatakan komitmennya untuk mempererat sinergi kebijakan dengan Pemerintah, Bank Indonesia, serta otoritas terkait lainnya. Kerja sama ini tidak hanya dimaksudkan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dalam jangka pendek, tetapi juga untuk memperluas ruang dukungan pembiayaan yang dibutuhkan pemerintah dalam program pembangunan nasional jangka menengah dan panjang.

Sinergi semacam ini menjadi esensial terutama mengingat target pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun 2026 diperkirakan akan berada sekitar kisaran 5,3–5,4 persen, menurut beberapa lembaga seperti Bank Indonesia dan KSSK—angka yang meskipun lebih tinggi dibanding tahun 2025, tetap membutuhkan kebijakan yang terkoordinasi dan strategis agar dapat terealisasi secara efektif.

Menyongsong 2026: Tantangan dan Peluang Ekonomi Nasional

Melihat ke depan, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menghadapi tantangan global seperti ketidakpastian perdagangan dunia, tekanan inflasi, serta dinamika pasar keuangan global. Namun, data pertumbuhan 5,11 persen pada 2025 memberikan sinyal positif bahwa ketahanan ekonomi Indonesia tetap kuat dan mampu bertahan di tengah berbagai tekanan eksternal.

Pihak-pihak terkait, baik dari regulator seperti OJK, perbankan, hingga pelaku usaha diharapkan dapat terus memperkuat struktur ekonomi domestik, memperluas basis investasi, serta meningkatkan produktivitas sektor-sektor utama seperti manufaktur dan konsumsi nasional. Upaya ini akan menjadi kunci untuk memastikan bahwa pencapaian positif di tahun 2025 tidak hanya menjadi sebuah momentum sesaat, tetapi menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan yang lebih berkelanjutan di tahun-tahun mendatang.

Terkini