Merger Pertamina: Kunci Transformasi BUMN dan Momentum Konsolidasi Lebih Luas

Senin, 09 Februari 2026 | 09:43:47 WIB

JAKARTA - Keberhasilan langkah strategis penggabungan anak usaha di lingkungan PT Pertamina (Persero) dianggap bukan sekadar penyederhanaan struktur, tetapi juga sebagai pembuktian bahwa BUMN di Indonesia sanggup menghadapi tantangan global bila ada keberanian mengambil keputusan penting. Menurut pengamat, momentum ini perlu dijadikan inspirasi agar pemerintah dan lembaga terkait mendorong konsolidasi yang lebih luas pada BUMN lainnya demi memperkuat daya saing nasional dan efisiensi tata kelola.

Transformasi Struktural di Lingkungan Pertamina

Baru-baru ini, PT Pertamina melakukan penggabungan antara PT Pertamina Patra Niaga, PT Kilang Pertamina Internasional, dan PT Pertamina International Shipping ke dalam entitas yang lebih terintegrasi. Langkah ini tidak hanya menggabungkan administrasi saja, melainkan merestrukturisasi model bisnis dari hulu ke hilir dengan tujuan memperkuat sinergi operasional.

Sofyano Zakaria, Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi), menyebutkan bahwa integrasi ini menunjukkan kemampuan BUMN untuk melakukan transformasi bisnis secara berani dan terukur. Menurutnya, kombinasi fungsi distribusi, pengolahan, dan pengangkutan energi mampu mempercepat pengambilan keputusan dan mengurangi tumpang tindih fungsi yang selama ini menjadi tantangan dalam proses operasional.

Penggabungan unit-unit ini juga dipandang sebagai jawaban terhadap dinamika pasar global yang semakin kompetitif, di mana efisiensi biaya dan ketepatan koordinasi menjadi kunci utama dalam merespons tantangan perubahan permintaan energi dunia.

Momentum Konsolidasi BUMN Lainnya

Menurut Sofyano, kesuksesan merger Pertamina harus menjadi momentum strategis yang dimanfaatkan Pemerintah serta Danantara — lembaga yang mewakili pengelolaan investasi negara — untuk mendorong kebijakan serupa di sektor BUMN lain yang memiliki bidang usaha sejenis.

Ia memberi contoh pada kelompok perusahaan seperti PT Pelabuhan Indonesia (Persero) dan PT Angkasa Pura Indonesia, di mana masih terdapat subholding maupun anak perusahaan yang menjalankan fungsi yang sangat mirip, bahkan kadang layanan yang hampir sama. Kondisi seperti ini menurutnya menyulitkan sinergi, menciptakan biaya operasional tinggi, serta potensi persaingan internal yang sebenarnya tidak perlu.

“Jika dalam satu kelompok usaha ada beberapa entitas yang menjalankan fungsi yang hampir sama, maka energi perusahaan akan terpecah. Padahal, tantangan global menuntut kecepatan, kesatuan arah, dan efisiensi,” jelas Sofyano.

Dalam konteks tersebut, merger atau konsolidasi tidak hanya sekadar penggabungan unit usaha, tetapi juga strategi penting untuk memastikan BUMN mampu bersaing di tingkat global dan menjadi lebih responsif terhadap perubahan pasar internasional yang cepat.

Pertimbangan Strategis di Balik Merger BUMN

Sofyano menguraikan beberapa pertimbangan penting mengapa merger pada BUMN sejenis perlu dilakukan. Pertama adalah efisiensi biaya. Penggabungan perusahaan yang memiliki fungsi serupa, menurutnya, dapat mengurangi duplikasi jabatan, sistem, dan infrastruktur yang selama ini menyerap anggaran besar. Dengan struktur yang lebih ramping, anggaran yang tersedia dapat difokuskan pada peningkatan layanan serta investasi strategis yang memberikan nilai tambah lebih besar bagi perekonomian nasional.

Selain itu, penguatan daya saing menjadi alasan penting lain. Dalam konteks kepelabuhanan dan kebandarudaraan, misalnya, persaingan tidak lagi hanya bersifat domestik — namun lintas negara. Adanya struktur perusahaan yang ramping dan terintegrasi menurut Sofyano dapat membuat BUMN Indonesia lebih responsif terhadap perubahan dinamika pasar internasional.

Pertimbangan ketiga berkaitan dengan transparansi dan akuntabilitas. Semakin sederhana struktur perusahaan, semakin mudah pula pengawasan dan pengendalian dilakukan. Hal ini penting untuk menjaga kepercayaan publik dan memastikan bahwa BUMN dikelola untuk kepentingan negara dan masyarakat luas, bukan sekadar memenuhi kebutuhan birokrasi internal.

Lebih jauh lagi, pengelolaan aset negara menurut Sofyano akan menjadi lebih optimal jika dilakukan secara terpusat. Banyak aset BUMN yang belum dimanfaatkan secara maksimal karena tersebar dalam berbagai entitas. Dengan konsolidasi, pengelolaan aset-aset tersebut dapat direncanakan dengan lebih strategis untuk memberikan kontribusi maksimal terhadap produktivitas dan nilai ekonomi nasional.

Perhatian Pemerintah dan Tantangan Implementasi

Meski melihat sisi positif dari proses merger, Sofyano juga menekankan bahwa kebijakan ini tidak dapat dilakukan secara tergesa-gesa. Pemerintah perlu menyusun kajian mendalam untuk menilai dampak terhadap tenaga kerja, menjaga agar proses transisi berjalan secara adil, serta memastikan transparansi dalam seluruh tahapan konsolidasi.

Dia menegaskan bahwa keberanian memutuskan merger tetap diperlukan agar BUMN tidak terjebak dalam struktur yang gemuk dan lamban, meski proses persiapannya harus matang dan mempertimbangkan banyak aspek agar tidak merugikan pemangku kepentingan.

Sofyano juga mendorong Danantara untuk tidak hanya berperan sebagai pengelola investasi, namun juga sebagai penggerak utama dalam reformasi struktural BUMN. Konsolidasi, menurutnya, bukan sekadar pengurangan unit usaha, tetapi bagian dari pembenahan besar yang diperlukan agar BUMN benar-benar menjadi motor penggerak bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Menatap Peran BUMN di Masa Depan

Ke depan, konsolidasi struktur BUMN dipandang sebagai langkah fundamental dalam merespons tantangan globalisasi, dinamika pasar, dan kebutuhan efisiensi dalam tata kelola perusahaan negara. Merger tiga unit usaha Pertamina ini dapat menjadi contoh penerapan strategi korporasi yang mampu mengoptimalkan fungsi operasional, memperkuat daya saing, dan memaksimalkan potensi aset negara.

Kisah transformasi ini diharapkan mampu menginspirasi langkah serupa di sektor lainnya, sehingga BUMN Indonesia dapat lebih siap menghadapi persaingan global dan menjadi pendorong utama kesejahteraan nasional melalui efisiensi, integrasi, dan akuntabilitas yang lebih tinggi.

Terkini