Menyoroti Warisan Diplomasi Mochtar melalui Film “12 Mile” di Layar Lebar

Kamis, 05 Februari 2026 | 14:34:59 WIB

JAKARTA – Tidak sekadar film sejarah, “12 Mile: Guiding the Archipelago” hadir sebagai upaya sinematik untuk membumikan gagasan besar seorang negarawan yang kerap kurang dikenal generasi muda. Film biopik ini membawa penonton menyelami perjalanan panjang diplomasi Indonesia yang mempengaruhi cara dunia memahami negara kepulauan.

Menghidupkan Sosok di Balik Konsep Negara Kepulauan

Film ini diproduksi oleh MAI Productions dan mengangkat kisah perjuangan mendiang Menteri Luar Negeri dan pahlawan nasional, Mochtar Kusumaatmadja, dalam memperjuangkan pengakuan internasional atas konsep negara kepulauan dan Wawasan Nusantara.

Menurut sutradara Tubagus Deddy, tujuan besar di balik film ini adalah memberi wajah dan narasi yang kuat pada sosok Mochtar yang kerap hanya disebutkan secara singkat dalam buku sejarah atau berita lama TVRI. “Dulu pun kami tak tahu apa yang beliau lakukan hingga menjadi pahlawan nasional. Namun, setelah kami meneliti, ternyata memang pemikiran Mochtar, meski sosoknya sederhana, adalah sekaliber internasional,” ujar Deddy dalam konferensi pers di Jakarta Pusat.

Sudut pandang film ini kemudian berupaya menempatkan Mochtar bukan hanya sebagai figur sejarah, tetapi sebagai aktor utama yang mempengaruhi arah kebijakan luar negeri Indonesia pada era yang krusial. Penonton diajak melihat perjuangan intelektual dan diplomasi yang mengguncang dunia hukum laut internasional.

Premis Film: Diplomasi 25 Tahun untuk Pengakuan Dunia

Premis utama “12 Mile” berakar dari panjangnya perjalanan diplomasi Indonesia selama lebih dari dua dekade — dari gagasan awal yang sempat ditentang negara-negara besar hingga akhirnya diakomodasi dalam kerangka hukum internasional UNCLOS 1982.

Deddy menegaskan bahwa tantangan terbesar dalam produksi film ini bukan sekadar menggambarkan kehidupan Mochtar, tetapi bagaimana menjadikan konsep-konsep kompleks hukum laut internasional — sesuatu yang biasanya dikenal di ruang akademik atau diplomasi — menjadi sesuatu yang mudah dipahami dan mengena secara emosional bagi audiens massa.

Untuk itulah tim produksi melakukan riset mendalam, termasuk kajian sumber akademik serta wawancara dengan saksi sejarah dan keluarga Mochtar, demi menghadirkan representasi yang otentik dan edukatif sekaligus.

Karakter Ganda: Diplomat Ulung dan Kepala Keluarga

Film ini tidak sekadar merinci prestasi diplomatik Mochtar dalam arena internasional. Lebih dari itu, narasi film “12 Mile” menampilkan juga sisi personal dari Mochtar sebagai ayah dan kepala keluarga — sebuah upaya untuk memberi dimensi humanis yang lebih luas pada tokoh yang biasanya hanya dibayangkan sebagai pahlawan nasional yang tak tergoyahkan.

Pendekatan dramatik tersebut menjadi jembatan emosional yang diharapkan mampu membuat sejarah tidak sekadar menjadi materi pelajaran semata, tetapi juga kisah hidup yang bisa dirasakan oleh penonton modern.

Erlangga Noor: Tantangan dan Kehormatan Memerankan Mochtar

Peran utama Mochtar di layar lebar diemban oleh aktor Erlangga Noor. Bagi Erlangga, ini bukan sekadar proyek film biasa. Ia mengatakan sudah merasakan beban dan kehormatan besar menjelma menjadi karakter yang begitu fenomenal.

“Saya merasa terhormat bisa memainkan sosok yang begitu fenomenal di kampus saya, Universitas Padjadjaran — mungkin sudah takdirnya. Saya merasa Prof. Mochtar seperti ‘menunjuk’ saya untuk memerankan beliau di film ini,” ujar Erlangga yang kebetulan satu almamater dengan Mochtar.

Ungkapan Erlangga mencerminkan bagaimana proyek ini tidak hanya menjadi artefak budaya, tetapi juga pengalaman pribadi yang mendalam bagi para pemerannya. Tidak heran jika hal ini diharapkan bisa menular pada penonton, terutama dalam melihat jasa besar yang jarang terekspos itu.

Harapan: Meningkatkan Kesadaran Generasi Muda

Salah satu motivasi besar di balik pembuatan film ini adalah mendorong generasi muda untuk mengenal lebih jauh tentang perjuangan diplomasi Indonesia yang berdampak global. Film “12 Mile” diharapkan menjadi jendela edukatif yang membuka pemahaman kaum muda tentang sejarah nasional yang sering tersembunyi di balik angka dan teks panjang.

Dalam konteks yang lebih luas, film ini juga berfungsi sebagai pengingat bahwa Indonesia — sebagai negara kepulauan terbesar di dunia — memiliki akar historis yang kuat dalam memperjuangkan pengakuan internasional atas keberadaannya dan hak-haknya di panggung global.

Penayangan dan Promosi Film di Berbagai Lini

“12 Mile” direncanakan akan segera tayang di bioskop-bioskop nasional dalam waktu dekat. Sebagai bagian dari strategi promosi, rencana acara nonton bareng akan digelar di sejumlah perguruan tinggi serta perwakilan Republik Indonesia di luar negeri.

Promosi lewat jejaring pendidikan dan perwakilan diplomatik ini menunjukkan bahwa film bukan hanya dianggap sebagai hiburan, tetapi juga sebagai medium untuk memperluas apresiasi sejarah dan diplomasi Indonesia — baik di dalam negeri maupun di kancah internasional.

Film Sebagai Bentuk Memori Kolektif

Film “12 Mile: Guiding the Archipelago” bukan sekadar biopik sejarah biasa. Dengan kerangka kisah yang mendalam sekaligus pendekatan personal terhadap tokoh Mihcar Kusumaatmadja, film ini menghadirkan sebuah sudut pandang baru tentang bagaimana sejarah diplomasi Indonesia layak dikenang dan dibagikan lintas generasi.

Melalui lensa sinematografi, perjuangan panjang selama 25 tahun itu bertahan bukan hanya sebagai cerita di buku teks, tetapi sebagai narasi hidup yang relevan dengan pemahaman kontemporer tentang jati diri bangsa Indonesia sebagai negara kepulauan yang berdaulat di dunia.

Terkini