JAKARTA - Bursa transfer musim dingin di Serie A telah resmi ditutup, dan kini sorotan bergeser ke laporan finansial klub. Sementara banyak tim memilih untuk bermain aman di lapangan, neraca keuangan memperlihatkan dinamika berbeda antar klub. Sebagian mampu memaksimalkan pemasukan dari penjualan pemain, sedangkan yang lain mengambil pendekatan hati-hati.
Lazio: Pemuncak Penghasilan dari Bursa Transfer
Lazio menutup bursa transfer Januari dengan pencapaian tertinggi dalam hal penghasilan. Berdasarkan data dari Transfermarkt, klub ibu kota Italia ini berhasil mencatatkan pemasukan sebesar €59,7 juta atau setara sekitar Rp1,014 triliun.
Pengeluaran Lazio sendiri mencapai €36,5 juta (sekitar Rp620,5 miliar), sehingga mereka menutup periode ini dengan saldo positif €23,2 juta, atau sekitar Rp394,4 miliar — menjadikan Biancocelesti klub dengan penghasilan terbesar dari aktivitas transfer di Serie A.
Aktivitas transfer yang tinggi ini dipengaruhi oleh pembatasan yang dialami klub pada bursa musim panas sebelumnya, sehingga Januari menjadi kesempatan utama mereka menyeimbangkan neraca keuangan.
Udinese dan Atalanta: Pendatang yang Bersenjata Cantik
Mengikuti Lazio, Udinese juga mencatatkan pemasukan yang signifikan yakni €31 juta atau sekitar Rp527 miliar, dengan pengeluaran hanya €7,5 juta (Rp127,5 miliar). Hal ini membuat mereka menutup bursa transfer dengan saldo positif €23,5 juta, sedikit lebih besar dari Lazio jika dilihat dari sisi net profit.
Sementara itu, Atalanta kembali menunjukkan reputasinya sebagai klub yang mahir menjual pemain. Mereka mendapatkan €37 juta (sekitar Rp629 miliar) dari penjualan, dan setelah mengeluarkan €22 juta (Rp374 miliar) untuk pembelian, La Dea mencatat saldo positif €15 juta (sekitar Rp255 miliar). Ini memperkuat citra Atalanta sebagai salah satu klub paling bijak dalam manajemen finansial di pasar transfer Serie A.
Strategi Raksasa Serie A: Juventus & AC Milan Berhitung Hati-Hati
Berbeda dengan klub yang agresif di pasar, tiga raksasa Serie A justru mengambil pendekatan berbeda:
Juventus nyaris tidak berbelanja pemain pada bursa ini. Mereka mencatat pemasukan €2,5 juta (Rp42,5 miliar) dari penjualan, namun tanpa pengeluaran transfer berarti, sehingga hanya menyisakan saldo positif kecil. Ini mencerminkan strategi kehati-hatian sang klub yang tengah fokus menstabilkan keuangannya serta mempersiapkan pergerakan besar di bursa musim panas.
AC Milan juga berjalan dengan pendekatan konservatif. Rossoneri tercatat mengeluarkan €8 juta (sekitar Rp136 miliar) tanpa adanya pemasukan dari penjualan pemain. Investasi tersebut diarahkan lebih pada pemain muda, dengan harapan dampak jangka panjang akan dirasakan musim-musim berikutnya.
Pendekatan semacam ini menunjukkan kontras strategi finansial antara klub-klub besar tradisional dan klub-klub yang memanfaatkan pasar musim dingin untuk memperkuat neraca mereka.
Bursa Transfer Musim Dingin Serie A 2026 dalam Angka
Musim dingin 2026 memberi gambaran menarik tentang bagaimana klub-klub Serie A mengelola aset dan keuangan mereka di tengah tekanan kompetitif. Beberapa mengambil keuntungan dari penjualan untuk mencatatkan surplus, sementara yang lain fokus pada stabilitas jangka panjang dan pembangunan skuad masa depan.
???? Lazio menjadi sorotan utama dengan penghasilan terbesar, diikuti oleh klub seperti Udinese dan Atalanta yang juga menutup bursa dengan keuntungan bersih positif tinggi. Sebaliknya, klub-klub besar seperti Juventus dan AC Milan memilih pendekatan hati-hati, memprioritaskan keseimbangan keuangan dan prospek masa depan di atas aktivitas transfer besar-besaran.